RepublikeXpose.com : JAKARTA BARAT – Balai Warga RW 014 Kelurahan Cengkareng Timur, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, resmi diresmikan pada Jumat (7/8/2026). Fasilitas publik yang berada di depan Apartemen Sentraland Cengkareng tersebut diharapkan menjadi pusat pelayanan, kegiatan sosial, budaya, dan musyawarah masyarakat.

Peresmian dihadiri Ketua RW 014 H. Lili Surtali, S.H., beserta jajaran pengurus, Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) RW 014, para Ketua RT 001 hingga RT 016, tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, unsur pemerintah, aparat keamanan, serta warga RW 014.
Sejumlah organisasi kemasyarakatan turut hadir, di antaranya Forum Betawi Rempug (FBR), Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar (BPPKB), Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB Jaya), Laskar Merah Putih (LMP), dan Madura Asli (MADAS).

Turut hadir Ketua DKM Masjid Al-Hasyimiyah, Ketua Majelis Al-Khoiriah, Ketua Majelis Nurul Ibad, Bhabinkamtibmas Kelurahan Cengkareng Timur, personel Satpol PP Kelurahan Cengkareng Timur, serta jajaran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pokja Wali Kota Jakarta Barat.
Dari PWI Pokja Wali Kota Jakarta Barat hadir Sekretaris Peri Ryan, Wakil Sekretaris Rafian Tama Periadi, dan Wakil Kepala Bidang Hubungan Antar Lembaga Robert. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap penguatan sinergi antara media, masyarakat, dan berbagai elemen di wilayah Cengkareng.

Sejumlah tokoh agama, yakni Ustaz Heri Hidayat, KH. Zabidi Maemun, Lc., dan KH. Drs. H. Husni Al-Fatoni, juga hadir serta memberikan doa dan pesan-pesan keagamaan mengenai pentingnya persatuan dan kebersamaan masyarakat.
Balai Warga Ditegaskan sebagai Aset Bersama
Dalam sambutannya, Ketua RW 014 Cengkareng Timur, H. Lili Surtali, S.H., menegaskan bahwa Balai Warga RW 014 bukan milik pribadi Ketua RW maupun pengurus, melainkan fasilitas bersama yang diperuntukkan bagi seluruh masyarakat.

Menurut Lili, pembangunan balai warga merupakan salah satu program prioritas sejak dirinya dipercaya menjadi Ketua RW sekitar dua tahun lalu. Sebelumnya, RW 014 belum memiliki kantor tetap sehingga pos RW kerap berpindah mengikuti domisili Ketua RW yang menjabat.
“Selama ini pos RW kami berpindah-pindah. Ketika Ketua RW tinggal di RT 01, pos RW ada di RT 01. Pindah ke RT lain, ikut pindah lagi. Karena itu saya memiliki cita-cita membangun Balai Warga RW 014 yang definitif agar siapa pun Ketua RW nanti tetap memiliki kantor yang sama,” kata Lili.
Ia menegaskan, Balai Warga RW 014 merupakan aset sosial masyarakat yang tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi maupun komersial.
“Ini bukan milik Ketua RW, bukan milik pengurus RT, tetapi milik seluruh warga RW 014. Siapa pun pengganti saya nanti, balai warga ini tetap menjadi kantor RW definitif dan pusat kegiatan masyarakat,” ujarnya.
Lili menjelaskan, penggunaan lahan untuk pembangunan balai warga telah mendapat persetujuan pihak Perumnas melalui surat pernyataan yang ditandatangani para Ketua RT, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta unsur masyarakat lainnya.
Balai warga tersebut diperuntukkan sebagai tempat pelayanan masyarakat, musyawarah warga, kegiatan PKK, Posyandu, Posbindu, serta berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan.
Jadi Wadah Pelestarian Budaya Betawi
Selain menjadi pusat pelayanan masyarakat, Balai Warga RW 014 juga diarahkan sebagai wadah pembinaan seni dan budaya Betawi, khususnya bagi generasi muda.
Saat ini telah berjalan Sanggar Tari Kembang Cengkareng yang melaksanakan latihan dua kali dalam sepekan tanpa dipungut biaya. Selain seni tari, kegiatan pembinaan juga mencakup latihan pencak silat Cingkrik dan Cimande.
“Kami ingin menghidupkan kembali kesenian Betawi di wilayah RW 014. Anak-anak berlatih tari secara gratis, kami fasilitasi. Selain itu juga sudah ada latihan pencak silat Cingkrik dan Cimande. Harapannya mereka bisa tampil dalam berbagai kegiatan warga maupun peringatan HUT Kemerdekaan RI,” tutur Lili.
Ia berharap keberadaan balai warga dapat menjadi pusat pemb









