Diskriminatif, Jaksa Karawang Tidak Tahan Terdakwa Agan, Habibah : Saya Korban Terdakwa dan Penegak Hukum !

Karawang, Republikexpose.com
Selasa tanggal 20 Desember 2022 Habibah Robijati Menghadiri Panggilan Jaksa Penuntut Umum untuk diperiksa di muka persidangan sebagai saksi korban, hadir bersama ibunya sebagai Saksi bernama Hj. Hartati dengan Perkara No. 355/Pid.B/2022PN.Kwg. Akan tetapi setelah menunggu beberapa jam sejak kehadirannya jam 10 WIB, akhirnya pada jam 14.00 WIB saksi korban dan ibunya yang dalam keadaan sakit menggunakan kursi roda bertemu untuk pertama kalinya dengan Jaksa bernama Dewi Primasari yg menjadi Penuntut dalam Perkara No. 355/Pid.B/2022PN.Kwg. Dan secara tiba-tiba mengkonfirmasi bahwa sidang hari ini ditunda disebabkan bahwa ketua majelis hakim perkara cuti dadakan sehingga perkara yang ditanganinya ditunda sampai hari Selasa tanggal 3 Januari 2023.
Pada kesempatannya, Habibah yang didampingi Kuasa Hukumnya bernama Teuku Afriadi, S.H. dari RWD Law Office menyempatkan waktu untuk bertanya status Penahanan Terdakwa Agan.
JPU Dewi menerangkan bahwa tidak ditahannya terdakwa dikarenakan jaksa menilai bahwa ancaman pidana Terdakwa Maksimal 4 Tahun sesuai pasal 385 ayat 4 KUHP.
Dari keterangan JPU Dewi, Kuasa Hukum Habibah hanya tersenyum dan tidak mau berdebat. Hanya saja menyampaikan bahwa Terdakwa Agan masih melakukan perbuatannya dengan menguasai satu aset lainnya dan masih berupaya masuk dan menguasai lahan Korban.
Tetapi Jaksa tidak menggubris informasi tersebut dan langsung menyeleaaikan Pembicaraan.
Ditempat dan waktu lainnya, Kuasa Hukum dimintai keterangan oleh awak media dan bertanya terkait proses Perkara No. 355/Pid.B/2022PN.Kwg. menerangkan bahwa  hal serupa terkait penanganan Agan yang tidak ditahan, sambil tersenyum sumringah Teuku menjelaskan bahwa “Apa yang menjadi alasan JPU tidak menahan Agan itu terdengar seperti Cerita Telenovela atau Dongeng anak masa kecil saya dulu, sebab apa yang menjadi alasan hanya menghibur Korban, Dewi mungkin Lelah dengan banyak perkara yang ditangani nya hari ini sehingga bahasa Normatif itu pede disampaikan Ibu Jaksa,” ucap sambil tertawa. 
Sebab sebelum saya datang ke pengadilan ini, saya sudah mengantongi nama Jaksa yang menangani perkara, terus saya melakukan penelusuran atau riset perkara yang ditangani Dewi dengan ancaman hukuman 4 tahun dan belum saya temukan Terdakwa tidak ditahan olehnya KECUALI TERDAKWA AGAN. Artinya ini menjadi perhatian kita bersama. Analogi Dongeng yang saya sampaikan tadi bisa diterima akal sehat.
“Klien kami sudah berkomunikasi dengan Dewi melalui seluler, dan pernah datang ke kantornya tetapi setelah menunggu beberapa jam mulai pukul 10.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB tidak juga bisa bertemu, dan hampir setiap hari berkomunikasi terkait perkara dan sangat terkejut tiba-tiba disuruh hadir untuk diperiksa sebagai saksi, terus kapan dakwaan dibacakan ??? Klien kami tidak pernah diberitahukan/diinformasikan. Ini kan sudah kelihatan kejanggalan dan dugaan ketidak profesionalan dari Jaksa Dewi, ” ungkap Teuku.
Tidak hanya itu, disisi lain saya memberi pertanyaan, jadi bu kalau nanti agan dihukum berati agan ditahan kan ?  JPU memberi jawaban lihat nanti, padahal siapapun yang dipidana harus nya jawabannya sederhana yaitu pasti ditahan tapi JPU saat ditanya memberi jawaban yang ragu-ragu, atas peristiwa tersebut Kuasa Hukum hanya tersenyum sumringah
Untuk selanjutnya Teuku Afriadi, S.H. dan Muhammad Rusdy Anshari, S.H. Akan melakukan upaya hukum mengajukan Perlindungan kepada KOMISI YUDISIAL, BAWAS MAHKAMAH AGUNG untuk mengawasi dan mengawa perkara 355/Pid.B/2022PN.Kwg. 
Serta melaporkan kejanggalan-kejanggal dan dugaan ketidakprofesionalan Jaksa Dl
P dan I pada KOMJAK KEJAKSAAN NEGERI KARAWANG dan GAKUM JAMWAS KEJAGUNG dan kita siap menggalang awak media untuk membantu Habibah yang sejak kecil sudah mengalami kekerasan dan tindak kejahatan oleh oknum mafia tanah agar MemVIRALkan Perkara Aquo di media media sosial apabila dalam waktu dekat ini Terdakwa agan tidak ditahan. KPAI & KOMNAS HAM harus juga tahu perkara aquo. 
“Upaya ini bukan karena tindakan arogan dari kami, hanya saja kami menyadari bahwa tranparansi keadilan bagi klien kami harus terwujud, kawan-kawan media jangan lupa dengan kasus Valencya memarahi suami mabuk dituntut sama Oknum Jaksa, peristiwa itu terjadi disini,” tandas Kuasa Hukum.
“Masukan kami selaku kuasa hukum, janganlah kalian yang sudah berkarir tinggi tinggi di Kejaksaan terus gara-gara mahkluk seperti AGAN Kalian mau menggadaikan karir profesi, nama kalian tercatat sebagai Jaksa yang pernah dilaporkan dan Viral, Ada apa ini semua, kasus lainnya TERDAKWA KALIAN TAHAN, padahal ANCAMAN PIDANYA SAMA, JPU Perkara 355/Pid.B/2022/PN. Krg. Diskriminatif,” ucap Teuku pada awak media sebagai penutup.
RE/CP/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *