Peluncuran Buku “Hanya Oleh Anugerah Tuhan Identitas Lutheran Gereja Batak”

News34 Dilihat
Jakarta, RepublikExpose.com
Pengurus BKS Pria Daerah Jabodetabek telah mencanangkan program pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (khususnya pelayan) melalui pemberian beasiswa bagi Pendeta dan pengembangan jaringan pelayanan melalui mendirikan Jemaat/Pos Kebaktian di daerah-daerah yang baru berkembang dimana GKPI belum ada didaerah tersebut sehingga jiwa-jiwa di daerah baru tersebut terlayani.
Sejalan dengan program tersebut diatas, Pengurus BKS Pria menyambut gembira penerbitan buku “Hanya Oleh Anugerah Tuhan; Identitas Lutheran Gereja Batak” yang ditulis oleh Bapak Pendeta Dr. Jhon PE. Simorangkir. Pengalaman dan perjumpaan selama ini bersama Bapak Pendeta Dr. Jhon PE. Simorangkir dalam melayani di GKPI Daerah Jabodetabek, beliau selalu aktif, kreatif, energik dan handal menghadirkan pelayanan gereja yang hidup dan menjadi motor penggerak/penyuplai spiritualitas agar lampu rumah Tuhan tetap menyala pada masa-masa sulit selama pandemi COVID-19. 
Untuk memperdalam pemahaman dan memperluas pewartaan butir-butir berharga dari buku yang baru diterbitkan kepada orang banyak dan guna mengajak warga jemaat khususnya para pelayan untuk bersemangat membaca yang pada akhirnya mencerahkan/meningkatkan wawasan, pengurus BKS Pria memprakarsai kegiatan Bedah Buku dan Peluncuran buku tersebut. Selain maksud tujuan tersebut, diharapkan Bedah Buku untuk mendorong/menyemangati para pendeta GKPI agar semakin bersemangat belajar, menekuni dan mengembangkan bidang-bidang yang terkait dengan pelayanan gereja, isu-isu terkait spiritualitas di masyarakat yang selalu dinamis sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman dan juga menuangkan pengalaman dan pengetahuan yang di gali menjadi tulisan untuk dibaca/dipahami oleh orang banyak.
Pengantar mengenai 
Gereja Timur dan Gereja Barat, Pokok Teologi: Di Gereja Timur : “Bagaimana manusia itu bisa menjadi tidak fana kelak.” Di  Gereja Barat: Soal-soal dosa dan rahmat (anugerah). Gereja Timur lebih dekat kepada Yohanes, dan Gereja Barat kepada Paulus. Beda atau perbedaan pandangan lainnya adalah mengenai sikap terhadap hidup kemasyarakatan dan kenegaraan. Gereja Timur: Menekankan sikap kasih dan kerendahan hati. Merenungkan hidup ketidakfanaan. Kaisar adalah Gambar/Wakil Allah. Gereja Barat: “Bertindak di dalam dunia.” Penguasa bisa dikuasai kejahatan.
Intisari dari buku Hanya oleh Anugerah Tuhan Identitas Lutheran Gereja Batak yaitu :
1. Terdapat pandangan umum bahwa identitas Lutheran gereja-gereja hasil penginjilan RMG (Rhenish Mission) di Indonesia, lebih populer dengan sebutan “Zending Barmen,” termasuk HKBP dan gereja-gereja yang kemudian memisahkan diri darinya, yakni GPKB (1927), HKI (1927), GKPS (1963), GKPI (1964), GKLI (1965), GKPA (1974), dan lain-lain, sebagai tidak murni. Bahkan ada ahli yang menyatakan bahwa secara teologis Gereja-Gereja Batak tidaklah bersifat Lutheran sama sekali. Karena walaupun sejak semula Gereja Batak memakai Katekhismus Kecil Martin Luther secara intens, tetapi pada saat yang sama ia juga mempraktikkan secara kuat hukum siasat gereja (church discipline) yang tidak ada dalam tradisi Gereja-Gereja Lutheran. Gereja Batak juga menggunakan Agenda (Book of Liturgy atau Worship directory) yang berasal dari Agenda gereja Prussia, Jerman, yang merupakan penggabungan atau penyatuan Lutheran dan Reformed (United Churches). Di dalam bagian Perjamuan Kudus dari Agenda ini “kehadiran tubuh dan darah Kristus yang sebenarnya di dalam roti dan anggur” tidak disebutkan. 
2. Konfesi HKBP (Konfesi 1951 dan Konfesi 1996) dan Konfesi GKPI (Pokok-Pokok Pemahaman Iman GKPI 1991 dan Pokok-Pokok Pemahaman Iman GKPI 1993) jelaslah bahwa walaupun HKBP, dan GKPI serta gereja-gereja lainnya yang berasal, berkembang atau memisahkan diri dari HKBP adalah berasal dari Rhenish Mission, suatu badan misi yang netral secara konvensional, tapi dari apa yang telah dirumuskan di dalam konfesi HKBP dan GKPI, kedua gereja ini telah menerima dan memeluk keyakinan-keyakinan teologis yang dasar dan esensial bagi identitas Lutheran. 
3. Perumusan tentang pembenaran di dalam konfesi Gereja Batak itu memang tidak memasuki lebih jauh, misalnya, menyangkut pembedaan, yang lebih dikenal kemudian, antara “imputatif” (forensic justification) dan “efektif (effective justification),” atau antara “speaking” (menyatakan) orang menjadi benar dan “making” (membuat) orang menjadi benar. Cukup banyak yang memberi penilaian bahwa “menyatakan orang menjadi benar” (forensik/imputatif), bahwa Tuhan hanya mendeklarasikan orang menjadi benar, adalah khas Lutheran, sementara “membuat orang menjadi benar” (efektif), dengan men- transformasi orang tersebut, adalah khas Katolik. 
4. Sisi agar anugerah itu menjadi efektif adalah krusial dan menentukan. Di hadapan tantangan worldview Batak yang sangat menghargai dan juga sangat menuntut perbuatan (“pambahenan”) dan konteks Indonesia yang secara umum masih ditandai oleh kemiskinan, pemahaman dan ajaran Lutheran menyangkut “iman dan perbuatan baik” (Faith and Good Works), yang di dalamnya juga berbicara mengenai “the necessity of good works,” menjadi sangat signifikan diperkembangkan oleh HKBP dan GKPI, serta Gereja- Gereja Lutheran lainnya, bahkan seluruh gereja-gereja di Indonesia. Taurat, perbuatan-perbuatan baik, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama, dua hal yang tidak sama, tapi juga yang tidak boleh terlepas satu dengan yang lainnya (Mat. 22:37-40), adalah hal yang harus dikerjakan oleh orang yang telah ditebus Yesus Kristus.
RE/Helena/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *