RepublikeXpose.com // JAKARTA. — Penguat Kerukunan Masyarakat Nusantara (PKM Nusantara) menghadiri perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE/2026 M yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-34 Vihara Saddhapala, Minggu(31/5/2026). Momentum perayaan yang berlangsung hangat dan penuh keharmonisan tersebut menjadi simbol kuatnya semangat toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.
Acara yang digelar di Vihara Saddhapala itu turut dihadiri Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jakarta Barat H. Saumun, Ketua Kampung Kerukunan Bojong H. Effendy, serta sejumlah tokoh lintas agama lainnya. Kehadiran berbagai elemen masyarakat dan lintas keyakinan memperlihatkan semangat kebersamaan dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman.
Perayaan Waisak sekaligus HUT ke-34 Vihara Saddhapala tersebut disusun oleh Ketua Panitia dan Pengurus Vihara, Romo Tan Agus. Rangkaian acara berlangsung khidmat, namun tetap terasa akrab dan harmonis, mencerminkan nilai-nilai toleransi yang terus dijaga oleh masyarakat sekitar.
Dalam kegiatan tersebut hadir pula Bhante Dhammasubho dan Bhante Dhammakaro yang dikenal aktif sebagai Sahabat Gusdurian. Kehadiran kedua tokoh Buddhis tersebut semakin memperkuat pesan persaudaraan lintas agama yang menjadi ruh dalam perayaan Waisak tahun ini.
Pada kesempatan itu, Bhante Dhammasubho menyampaikan pesan Waisak mengenai pentingnya membangun sikap yang tepat dalam kehidupan lintas agama. Ia menjelaskan terdapat tiga sikap yang perlu dipahami dalam pergaulan antarumat beragama, yakni sikap idealis, dinamis, dan pluralis.
“Sikap idealis adalah menganggap hanya dirinya dan ajarannya yang benar. Sikap dinamis ialah mengikuti tanpa memahami esensi diri dan ajarannya. Sedangkan sikap pluralis adalah menghormati serta memahami esensi ajaran lain tanpa harus kehilangan jati diri,” ujar Bhante Dhammasubho dalam pesan singkatnya.
Menurutnya, sikap pluralis merupakan teladan yang telah dicontohkan Presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Sosok Gus Dur dinilai mampu hadir secara luwes di berbagai rumah ibadah tanpa kehilangan identitasnya sebagai seorang kiai.
“Gus Dur telah menunjukkan bagaimana menghormati perbedaan dengan penuh ketulusan tanpa rasa takut dan tanpa kehilangan jati dirinya,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua PKM Nusantara, Yohanes Rudy, menyampaikan bahwa momentum Waisak dan perayaan ulang tahun vihara menjadi pengingat pentingnya menjaga semangat persatuan dan kerukunan di tengah masyarakat majemuk Indonesia.
Menurut Yohanes Rudy, PKM Nusantara terus berupaya menjalin persaudaraan lintas agama, khususnya di wilayah Jakarta, serta berusaha untuk terus menebarkan kebaikan kepada sesama tanpa memandang latar belakang agama maupun suku.
“Momentum Waisak tahun ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk kembali belajar menata pikiran dan hati agar selalu menjadi orang baik, menjaga rasa kemanusiaan, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama,” ujar Yohanes Rudy.
Ia menegaskan bahwa PKM Nusantara akan terus menjaga dan menjalin silaturahmi lintas agama sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan bangsa di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Yohanes Rudy juga berharap hubungan baik antarumat beragama dapat terus dipertahankan melalui berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Harapan saya, para sahabat lintas agama tetap bersinergi dan kegiatan-kegiatan peduli sosial bisa terus terjalin ke depannya sebagai upaya memperkokoh persatuan dalam keberagaman,” katanya.
Melalui momentum Waisak dan perayaan ulang tahun vihara tersebut, PKM Nusantara berharap semangat toleransi, moderasi beragama, dan persaudaraan lintas iman terus diperkuat demi menjaga keutuhan bangsa dan keharmonisan masyarakat Indonesia. (rafian)









